Terbunuh dan Bunuh Diri dalam Dunia Kerja di Korea Selatan


Kabar menyedihkan baru saja menyeruak kembali dari Korea Selatan, pasalnya pada tanggal 27 Desember 2023 yang lalu seorang aktor bernama Lee Sun Kyun ditemukan tewas dengan dugaan bunuh diri. Menyusul belasan artis, sepeeti Jeon Mi Seon, Sulli dan sederet aktris dan aktor lain yang telah meninggal dunia dengan alasan yang sama. Terlepas dari apapun alasan seseorang melakukan bunuh diri, sungguh hal ini sudah harusnya menjadi bahan perhatian.

Belasan nama yang muncul di berita tentu ini hanya pucuk es yang tampak dengan sedemikian banyaknya kasus bunuh diri bahkan "terbunuh" di negeri ginseng tersebut. Tentu karena tersohornya nama-nama tersebut maka informasi lebih mudah naik ke permukaan dan lebih cepat sampai pada masyarakat luas. Namun jika kita masuk ke statistik yang lebih dalam maka jumlahnya jauh lebih tinggi dari itu.

Berikut data diambil dari beberapa tahun terakhir untuk Angka Bunuh Diri

Databoks :10 Negara Bunuh Diri Terbanyak


Korea Selatan menempati urutan ke empat dari seluruh negara yang ada di dunia. Bukan tanpa alasan. Persaingan di dunia kerja dan kehidupan sehari-hari di Korea Selatan dapat menjadi sangat intens menjadi salah satu faktor stres. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam konteks ini termasuk:

Persaingan Kerja

Pendidikan yang Kompetitif:

Sistem pendidikan Korea Selatan dikenal sangat kompetitif. Pendidikan yang baik dianggap sangat penting untuk sukses karir. Persaingan dimulai sejak tingkat pendidikan dasar dan terus berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi.

Pasar Kerja yang Ketat:

Persaingan untuk pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar dan bergengsi bisa sangat sengit. Lulusan perguruan tinggi elit sering kali memiliki keunggulan dalam mencari pekerjaan.

Budaya Keterampilan dan Dedikasi:

Budaya kerja yang menekankan jam kerja panjang dan dedikasi kepada perusahaan bisa meningkatkan tingkat persaingan.

DataIndonesia: Negara Jam Kerja Terlama di Dunia

Seperti data diatas Korea Selatan menempati posisi ke empat dengan jam kerja terlama secara internasional. Bahkan pada Maret 2023 ada pembahasan RUU dimana negara tersebut menambah jam kerja menjadi 69 jam dalam sepekan. Tentu akan ada perbedaan di jenis indsutrinya, namun rencana masih dinilai banyak kontra dan dampak negatifnya. Dilansir dari greennetwork.id, jam lembur umumnya dihitung setiap minggu dan dibatasi 12 jam. Berdasarkan RUU tersebut, pengusaha dan pekerja dapat menyepakati periode perhitungan bulanan atau bahkan tahunan. Apabila jangka waktu perhitungan melebihi satu bulan, maka batas waktu lembur bertambah menjadi 29 jam per minggu dan jam kerja maksimal 69 jam per minggu.

Tingkat Pengangguran untuk Lulusan Baru:

Lulusan baru mungkin menghadapi tingkat pengangguran yang tinggi karena persaingan yang ketat di pasar kerja.

Pasalnya Korea Selatan menempati peringkat ke empat untuk negara dengan jam kerja terlama. Persaingan hidup yang tinggi dengan tuntutan hidup yang juga tinggi timbul tren baru 

Hidup Sehari-hari

Biaya Hidup yang Tinggi:

Di beberapa kota besar seperti Seoul, biaya hidup dapat sangat tinggi, terutama untuk akomodasi dan pendidikan.

Tekanan Sosial dan Budaya
Ada tekanan sosial untuk memenuhi standar tertentu dalam hal penampilan dan prestasi. Budaya "honor" dan "saving face" (menjaga wajah dan kehormatan) memainkan peran penting dalam interaksi sosial. 

Mungkin ada yang masih ingat dengan beberapa aktor atau aktris yang kontrak kerjanya dibatalkan secara sepihak karena masa lalunya terungkap. Dalam dunia hiburan Korea terdapat budaya boikot dimana itu merupakan salah satu bentuk hukuman terhadap publik figur yang bertanggung jawab atas skandal. Cancel Culture adalah aksi penolakan terhadap selebriti yang terlibat skandal karena dianggap tidak memberikan contoh yang baik bagi penggemarnya. Maka jika dirunut ke atas banyaknya aksi bunuh diri dipicu karena stres dengan situasi tekanan sosial yang tinggi.

Kerja Keras sampai Tewas (Gwarosa)

Dikutip dari Finfolk, Warga negara-negara Asia Timur dianggap pekerja keras, dengan Korea Selatan menduduki peringkat teratas. Menurut data OECD, negara ginseng menjadi negara maju dengan jam kerja terpanjang. Pada tahun 2021, jam kerja tahunan orang Korea adalah 1,915 jam. Jumlah jam ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata jam kerja di negara OECD lainnya yaitu 1.716 jam per tahun.
Orang Korea yang bekerja 6 hari seminggu, pada realitanya ada yang bekerja 12-16 jam per hari, terakumulasi kurang lebih 70-90 jam seminggu.


Tren Gwarosa (meninggal saat bekerja)
Awal mula gwarosa di Korea Selatan sejak tahun 1980an, Korea Selatan mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat sehingga mengakibatkan tekanan kerja bagi para pekerja semakin meningkat.

Pada tahun 1990an, budaya kerja keras Korea Selatan semakin diperkuat dengan krisis keuangan Asia dan meningkatnya persaingan, dan pada tahun 2000an, jumlah laporan gwarosa meningkat. Puncak Gwarosa di Korea Selatan terjadi pada tahun 2017 dengan 792 kasus yang dilaporkan. Bahkan di tahun 2022 terlapor ada 15  kurir yang tewas saat mengantarkan paket dimana ia dituntut tepat waktu hingga tidak sempat makan dan beristirahat.

Sungguh sisi lain dari yang ditunjukan oleh drama dan filmnya bukan? Ini adalah sudut pandang dimana negara maju pun memiliki tantangan dan dampaknya untuk seluruh kalangan. Tidak hanya masyarakat menengah ke bawah, namun hingga kalangan entertainer.

 


Posting Komentar

0 Komentar